Tampilkan postingan dengan label pesta miras. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pesta miras. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 April 2010

Brebes: Tiga warga tewas usai pesta miras oplosan

Tiga warga di Kecamatan Tanjung, Kabupaten Brebes, tewas usai melakukan pesta minuman keras (miras) oplosan, Sabtu (3/4). Sementara, seorang lainnya dilaporkan selamat dari minuman maut tersebut. Namun, ia kini hanya bisa terbaring lemas di kamar rumahnya.

Korban tewas adalah Agus (45), warga Desa Lemah Abang, Bambang Rudiharto (32) dan Rame bin Kasmari (35), warga Desa Tanjung. Sedangkan korban selamat, Rohadi (32), warga Desa Tanjung.

Infomasi Suara Merdeka CyberNews di lapangan menyebutkan, korban melakukan pesta miras oplosan Selasa (30/3), sekitar pukul 14.00. Mereka berpesta di salah satu warung tepi jalan Tanjung-Kersana, masuk Desa Sengon, Kecamatan Tanjung. Agus menggelar pesta bersama Bambang dan Rohadi. Mereka awalnya minum miras oplosan di rumah Agus, di Desa Lemah Abang. Dari tempat itu, mereka melanjutkan minum lagi di warung tepi jalan Tanjung-Kersana. Sementara, Rame melakukan pesta bersama temannya di warung yang sama dengan waktu berbeda.

Kali pertama korban yang diketahui tewas adalah Agus. Yakni, pada Rabu (31/3) sekitar pukul 03.00. Kemudian, Bambang Rudiharto pada Jumat (2/4), sekitar pukul 16.00 dan Rame sekitar pukul 23.00. Jenazah Bambang dan Rame dimakamkan Sabtu (3/4), di pemakaman umum Desa Tanjung.

"Ada dua warga kami yang menjadi korban pesta miras oplosan ini. Jenazah semuanya sudah dimakamkan hari ini (kemarin-red)," ujar Kepala Desa (Kades) Tanjung, Jamal Abdul Kisser, Sabtu (3/4) di temui disela-sela pemakaman korban.

Dari pengakuan korban selamat, kata dia, mereka sebelumnya telah mengkonsumsi minuman keras jenis brangkal yang dicampur dengan sejumlah minuman suplemen. Miras itu dibeli dari sebuah warung di tepi jalan Tanjung-Kersana masuk wilayah Desa Sengon. Selain empat orang tersebut, pihaknya menduga masih ada orang lain yang ikut berpesta. Sebab, pesta miras dilakukan lebih dari satu kelompok. "Kami menduga masih ada orang lain yang ikut pesta, tetapi mereka selamat," terangnya.

Dia mengungkapkan, kejadian tersebut merupakan kali kedua yang menimpa warga Desa Tanjung. Dua tahun lalu, empat warganya juga tewas akibat miras oplosan. Pihak desa sebenarnya sudah berusaha melakukan pencegahan. Namun, prilaku minum miras oplosan itu ternyata dilakukan di luar desa. "Atas kejadian ini, tadi sejumlah anggota Polsek Tanjung sudah memintai korban selamat," sambungnya. Kapolres Brebes AKPB Beno Louhenapessy SIK MH melalui Kasat Reskrim AKP Sugeng SH mengatakan, hingga kini pihaknya masih menyelidiki kasus tersebut. http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/04/03/50900/Pesta-Miras-Oplosan-Tiga-Orang-Tewas

Yogyakarta: pesta lapen, Supriyadi tewas,

Supriyadi (45) alias Bolik, warga Tukangan DN II RT-028/RW-006 Tegalpanggung, Danurejan, Yogyakarta, tewas, Senin (5/4). Korban sempat dirawat di RS Bethesda, setelah sebelumnya sekarat akibat pesta minuman keras (miras) oplosan jenis lapen. Tewasnya Supriyadi ini menambah panjang rentetan kasus kematian yang disebabkan lapen.

Supriyadi menenggak lapen bersama empat rekannya, Yuzwan, Agung, Penceng dan Akirman di Jembatan Jambu, Jalan Mas Suharto, Danurejan, Yogyaklarta pada Sabtu (3/4) malam sekitar pukul 21.00 WIB. Awalnya, mereka hendak bermain bulutangkis, namun karena ban bocor, muncullah niat untuk pesta lapen.

"Lapen mereka beli di wilayah Gambiran Umbulharjo sebanyak 2 liter tanpa ada campuran. Satu liternya seharga Rp 25 ribu dengan rasa teh. Saat ini kami tengah memburu penjual lapen guna penyidikan," ujar Kapolsek Danurejan, AKP Akbar Thamrin melalui Kanit Reskrim Polsek Danurejan, Ipda Faisal P Manalu di ruang kerjanya, Selasa (6/4).

Faisal menambahkan, selang beberapa jam setelah setelah minum lapen, korban Supriyadi mengaku sakit di bagian perut, kemudian dikeroki oleh istrinya. Minggu (4/4) pagi, pun Supriyadi beraktifitas seperti biasa, baru pada sore harinya korban merasa lemas dan sakit di bagian ulu hati.

"Oleh istrinya, Supriyadi dibawa ke Puskesmas pada hari Senin (5/4) pagi. Setelah mendapat pengobatan, kondisinya sudah membaik dan dibawa pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, justru perut semakin sakit dan mata menjadi kabur. Kemudian jam 11.00 WIB dibawa ke RS Bethesda, selang satu jam kemudian jiwanya sudah tidak tertolong lagi. Korban juga sudah disemayamkan tadi siang," ujar Faisal.

Sedangkan dua rekan Supriyadi, yakni Yuzwan dan Agung, hingga saat ini masih dalam perawatan. Kondisi keduanya juga masih kritis, bahkan Yuzwan saat ini berada dalam penanganan intensif di RS Panti Rapih

http://www.krjogja.com/news/detail/27373/Lapen.Kembali.Minta..Tumbal...Warga.Danurejan.Tewas..h

Kudus : Pesta miras oplosan 3 orang tewas

Jumlah korban tewas akibat pesta minuman keras oplosan (campuran) di salah satu rumah warga di Desa Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo, Kudus, Jawa Tengah (Jateng), pada Senin (12/4) menjadi 3 orang

Korban terakhir bernama Hartono (45), warga Dukuh Kalidoro Lor, Desa Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo, Kudus. korban yang bernama Hartono dibawa ke Puskesmas Bulung Kulon pada Kamis (15/4) malam. Karena kondisinya kritis, korban dirujuk ke RSUD. Namun, meninggal dunia pada Jumat dini hari, pukul 03.00 WIB

Sementara dua korban yang lebih dahulu meninggal, bernama Sutris (36) warga Bulung Kulon dan Darsono (26) warga Desa Bulungcangkring sama-sama dari Kecamatan Jekulo. Darsono meninggal pada Rabu (14/4) malam sekitar pukul 23.00 WIB, sedangkan Sutris meninggal pada Rabu (14/4) dini hari, sekitar pukul 00.00 WIB.

Pesta minuman keras itu dilakukan pada Senin (12/4) malam, pukul 20.00 WIB di rumah Kusmin warga Desa Bulungcangkring saat mempersiapkan acara pernikahan anaknya. Kemudian, datang enam warga untuk menghadiri malam hajatan pesta pernikahan tersebut sambil membawa 20 liter minuman keras “kuningan”.

Selanjutnya, minuman keras tersebut diminum bersama-sama dengan keenam korban tersebut ditambah dengan empat warga lainnya yang hadir pada acara malam hajatan tersebut. Awalnya, sejumlah warga yang ikut pesta tidak merasakan sakit. Tetapi, pada Selasa (13/4) pagi, ada enam warga yang mulai merasakan sakit.

Empat dari enam orang yang merasakan sakit tersebut, dilarikan ke rumah sakit terdekat, sedangkan dua orang lainnya hanya dirawat di rumahnya masing-masing. Dua orang di antaranya, yang dirawat di RSUD Kudus, yakni bernama Sutris (36) dan Partono (26) akhirnya meninggal dunia.

Sedangkan korban selamat yang masih dirawat, yakni Kuswanto (35), Miskan (41), Ashari (40), dan Triyono (27)A berasal dari warga yang sama, yakni Desa Bulungcangkring, Kecamatan Jekulo.

Dari hasil identifikasi di lapangan, petugas dari Polres Kudus berhasil mengamankan jeriken, botol air mineral bekas, dan zat pewarna dari tempat kejadian perkara dan penjual miras yang berasal dari Desa Mejobo. “Penjualnya masih dalam pencarian. Sedangkan kemungkinan minuman keras tersebut ada campuran zat berwarna masih dalam proses penyelidikan,” kata Kasat Reskrim AKP Suward
Sumber : http://fajarjogja.blogspot.com/search/label/Kriminal

Salatiga: Tenggak Miras Oplosan, 20 Tewas

Dinas Kesehatan Kota (DKK) Salatiga memastikan 225 orang meminum miras racikan Rusmanadi alias Tius (41), warga RT 3 RW 6 Dukuh Karangpete, Kelurahan Kutowinangun, Kecamatan Tingkir. Dari 225 orang tersebut, 20 orang dipastikan meninggal, 33 orang rawat inap di sejumlah rumah sakit, 154 orang rawat jalan, serta sisanya masih dalam pemeriksaan.

data tersebut diperoleh dari beberapa rumah sakit di Kota Salatiga. DKK juga telah melakukan sweeping terhadap semua orang yang diketahui mengonsumsi miras. Mereka dianjurkan segera memeriksakan diri ke rumah sakit, terutama yang dipastikan merupakan konsumen Tius.

Pemkot juga telah membuka Posko Penanganan Korban Miras di kantor Satpol PP. Warga atau keluaga yang merasa familinya menjadi korban diminta untuk melapor. Mereka yang merasa menjadi korban akan diupayakan mendapatkan keringanan berobat. Keluarga korban meninggal akan diupayakan tali asih untuk meringankan penderitaan.

Wali Kota Salatiga John Manoppo SH merasa sangat prihatin terhadap kasus miras oplosan yang membawa puluhan korban tewas. Mengantisipasi agar kasus serupa tidak terjadi lagi, pemkot akan mengambil langkah tegas, terutama yang berkaitan dengan penjualan miras ilegal.

Terpisah, rumah Tius dijaga sejumlah petugas kepolisian menyusul adanya informasi akan dirusak warga, yang tidak lain merupakan famili korban miras oplosan Tius. Banyaknya korban akibat miras oplosan itu membuat warga dendam dengan ulah penjual yang diketahui sudah berkali-kali ditangkap petugas, tetapi tetap nekat berjualan minuman memabukkan itu.

Tius disebut-sebut sebagai penjual miras dengan pelanggan cukup banyak di wilayah Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang. Diduga, usahanya dibekingi sejumlah pihak tertentu.
Dimungkinkan korban meninggal lebih banyak lagi, namun tidak terdata karena banyaknya pelanggan

BILA melihat kondisi kesehatan pasien, korban miras racikan Rusmanadi alias Tius (41) diduga mengandung metanol (spiritus). Berbeda dengan ciu ataupun alkohol, metanol merupakan cairan yang tidak boleh diserap tubuh karena merupakan racun berbahaya. Dugaan bahwa cairan tersebut merupakan metanol diperkuat analisis sementara dokter spesialis penyakit dalam Agus Sunaryo SpPD MM dari RSUD Salatiga.

Gejala keracunan metanol ditandai dengan sesak napas, ujung tangan membiru, merusak penglihatan, kerusakan pada sistem syaraf dan organ tubuh yakni liver ginjal, paru-paru, jantung, serta lainnya.

Pada dosis 30 ml hingga 60 ml (setengah sloki) cairan metanol yang terserap dalam tubuh akan menyebabkan kematian. Berbeda dengan alkohol, metanol atau spiritus mudah terbakar. Bahkan lebih cepat terbakar dibandingkan bensin. Di bidang kesehatan metanol tidak boleh dikonsumsi karena tidak masuk kategori minuman yang dibutuhkan tubuh. Bila terkonsumsi akan terserap dengan cepat ke dalam tubuh, dibandingkan dengan alkohol.

Sejumlah pasien yang mendapat perawatan intensif akibat minuman oplosan itu langsung dibersihkan (dikuras) saluran pencernaan dan lambungnya. Meskipun sudah dibersihkan saluran pencernaan, korban tetap mengalami sesak napas, kejang, pusing, mual, dan lainnya. hal ini berarti metanol sudah terserap ke dalam darah. Metanol yang masuk ke dalam darah akan menjadi formalin (zat pengawet), yang sangat berbahaya.

Darah yang dipenuhi metanol itu akhirnya tersebar ke seluruh tubuh dan merusak organ dan fungsi alat tubuh yang ada. Karena itu, secara berlahan-lahan organ tubuh tidak bekerja hingga fungsi saraf pada otak. Metanol juga merusak saraf mata dan retina, hingga korban mengalami kehilangan penglihatan. Akibat konsumsi yang banyak akan berakhir pada kematian.

sumber : http://fajarjogja.blogspot.com/2010/04/korban-pesta-miras-di-salatiga-20-tewas.html